Selasa, 10 Juli 2012


 “Mewujudkan Kepribadian dan Profesionalitas Guru untuk Masa Depan”
Oleh : Indra Prayoga

            “Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak Guru, namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku, sebagai prasasti terimakasih ku tuk pengabdianmu. Engkau bagai pelita dalam kegelapan, engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan, engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa…”

          Sepertinya, sudah tak asing lagi tatkala kita mendengar lagu yang satu ini. Bahkan mungkin dalam setiap upacara hari senin, kita sering mendengarnya dalam deretan lagu wajib nasional. Lagu ciptaan Pak Sartono ini patut untuk diacungi jempol karena rasanya ketika lagu ini dikumandangkan, terasa khidmat dan membangkitkan semangat sekaligus membuat para guru bangga dengan profesi mulianya itu. Secara tidak langsung, lagu tersebut menandakan bukti kesetiaan guru terhadap para anak didiknya kapan pun dan dimanapun ia berada.
          Keberadaan para guru sangat urgen sekali mengingat masa depan bangsa ditentukan oleh Generasi yang berkependidikan. Selain itu peranan pendidikan yang memang merupakan kebutuhan dasar setiap manusia perlu di realisasikan keberadaannya dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan Negara. Oleh karena itu komponen-komponen yang mendukung penyelenggaraan pendidikan seperti sekolah dan tenaga pendidik/guru perlu diperhatikan keberadaannya dengan baik karena keberhasilan masa depan tentu tidak dapat dipisahkan dari institusi yang menaunginya.

Dimana ada Sekolah, Disana pasti ada Guru
            Sekolah merupakan lembaga yang berperan sangat penting dalam dunia pendidikan. Baik atau buruknya masa depan kita ditentukan oleh baik tidaknya pendidikan yang di berikan guru di sekolah, di samping pendidikan anak oleh orang tuanya di rumah. Sekolah serta lingkungan di sekelilingnya mempengaruhi kesuksesan kita sebagai pelajar di masa depan. Jadi sekolah adalah pelengkap proses pendidikan yang diberikan oleh orang tua kita. Sekolah sangat diperlukan untuk melahirkan para generasi bangsa yang ahli ilmu pengetahuan, kepemimpinan yang baik dan cerdas, pemikir-pemikir atau cendekiawan yang professional, karena suatu saat para penerus bangsa inilah yang diperlukan untuk kesejahteraan hidup suatu Negara di masa mendatang. Oleh karena itu, ini semua tidak terlepas dari peranan sekolah dimana di dalamnya terdapat guru yang turut andil dalam mengatur anak didiknya.
            Pilihan menjadi seorang guru, secara langsung mengabdikan diri pula untuk  menjadi sosok teladan yang baik, karena memang sudah  sewajarnya tabiat seorang guru  harus mempunyai karakter tersebut. Tidak hanya karakter itu saja yang harus dimiliki guru, tetapi karakter-karakter lainnya yang dilandasi akhlakul karimah karena seorang guru yang baik itu adalah guru yang dapat mempengaruhi anak didiknya untuk menjadi yang terbaik dan berprestasi di sekolah.
 Berbicara mengenai profesi seorang guru, berbicara pula aktivitas kegiatan belajar di sekolah. Setiap hari kita menuntut ilmu di lembaga ini dari pagi hingga sore hari dan itu semua tidak terlepas dari bimbingan guru disana. Hal ini memberikan keterangan bahwasannya wajib bagi kita untuk menggali ilmu dan mengembangkan ilmu pengetahuan, tentu terjadilah proses pentransferan ilmu dari guru kepada anak didiknya. Tidak hanya itu saja, seorang guru harus mampu menyampaikan bahwa tugas  seorang siswa itu tidak hanya sebatas menjadi pencari ilmu saja, tapi harus pula mendukung proses belajar, mengajarkan ilmu atau orang yang mengamalkkan ilmu agar lebih bermanfaat. Dengan begitu, siswa di sekolah mengetahui makna dan hakikat ilmu yang sebenarnya. Seorang guru yang baik selain dapat mempengaruhi anak didiknya ke arah yang benar, memahamkan serta menanamkan pula bahwa potensi semua siswa itu adalah sama. Tapi yang membedakan hasil akhirnya itu adalah  melalui tahapan proses sebelumnya. Bukankah proses belajar yang baik akan menghasilkan pemahaman yang baik pula?
            Memahamkan dan menancapkan perkataan pada anak didik bahwa “Tidak ada orang yang pintar, yang ada itu hanyalah orang yang rajin dalam memahami segala sesuatu” dan “ tidak ada orang yang bodoh, yang ada itu hanyalah orang yang malas menggunakan sarana pengembangan dirinya”. Kesimpulan tersebut tentu sudah menjadi hal yang tak aneh terdengar oleh telinga kita. Bahkan sering kita mendengarnya dari guru di sekolah. Sudah dikatakan sejak awal bahwa inginnya guru itu adalah melakukan sesuatu yang terbaik bagi anak didiknya, dan tak mungkin menjerumuskannya kepada sesuatu yang salah. Meskipun kesalahan yang terkadang dilakukan oleh manusia itu sifatnya manusiawi, tapi bukan berarti kita senantiasa untuk tetap dalam kesalahan tersebut. Melainkan adanya perubahan untuk memperbaiki kesalahan tersebut ke arah yang lebih baik.
            Seorang guru yang handal itu adalah guru yang pandai membaca situasi dan kondisi anak didiknya, tak mungkin memaksakan kehendaknya secara langsung agar anak didik itu mampu memahami apa yang dikehendaki gurunya tersebut. Dan yang paling bijak adalah memahaminya secara pelan dan penuh dengan perasaan. Tapi di sisi lain tak dapat dipungkiri lagi bahwa ada saja siswa yang membuat kesal karena tingkah lakunya di sekolah. Sebenarnya ini hal yang lumrah, karena tidak semua siswa yang baik itu ada di sekolah. Intinya, bersabar atas segala gangguan dan interaksi dari siswa itu penting. Meskipun demikian guru memberikan pengarahan, bimbingan dan peringatan dengan cara yang bijaksana dan hal ini pun sekaligus menjadi pembelajaran yang lebih bagi para guru, sekaligus menjadi ladang amal tersendiri bahwa menjadi seorang guru dibutuhkan kesabaran untuk menghadapi anak didiknya. Ada saja cobaan yang menimpa setiap waktu, tapi bukan berarti tidak mungkin anak didik itu tidak dapat berubah, sedikit demi sedikit perkataan bijak yang dilontarkan guru, pasti lama kelamaan akan melekat dan membuat hati anak didik itu luluh. Hanya saja butuh waktu dan proses serta motivasi yang kuat untuk menjalani semuanya itu. Bukankah batu cadas yang begitu keras pada akhirnya dapat berlubang juga karena terus menerus ditimpa derasnya hujan? Intinya, perlahan tapi pasti.
            Profesi menjadi seorang guru itu tidak mudah, apalagi harus menjadi contoh yang baik bagi seluruh civitas sekolah. Tetapi jika dilaksanakan dengan ikhlas dan sabar serta menjalankan tugasnya dengan baik, maka disanalah letak kemuliaan seorang guru. Tidak hanya menjadi sosok yang ideal saja, tapi juga sosok yang professional, karena dengan adanya guru yang berkualitas dan bermutu tentu akan melahirkan manusia-manusia yang unggul.

Sumber Daya Tenaga Pendidik yang Profesional
          Profesionalitas seorang guru di sekolah sangat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Sumber daya yang professional tentu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan, etos kerja yang bagus, amanah serta bertanggung jawab. Semua ini tidak hanya ditanamkan kepada guru saja, melainkan ditanamkan pula kepada anak didik, karena hal ini akan mempengaruhi perkembangan pendidikan di sekolah. Baik buruknya ucapan dan perilaku guru secara langsung akan menjadi contoh bagi siswa. Dan di lingkungan sekolah, tentu yang paling banyak berhubungan dengan siswa adalah gurunya. Oleh karena itu, selain mempunyai kepribadian yang baik, haruslah pula mempunyai semangat yang tinggi. Semangat dalam artian bersungguh-sungguh dalam proses mengajar dalam rangka menyebarkan ilmunya serta mempermudah metode pengajaran kepada orang yang akan mewarisi ilmunya itu dan mengemas sedemikian rupa agar proses belajar mengajar itu bisa menyenangkan. Santai tapi serius, lingkungan kondusif dan yang pasti semua siswa paham dengan apa yang disampaikan gurunya, itulah profesionalitas seorang guru.

“Aku ingin sekali menjadi guru yang professional, karena aku tahu bahwa jasa seorang guru itu begitu mulia. Dari tangan seorang guru, dapat lahir para generasi unggul dambaan umat. Aku ingin sekali bisa bermanfaat bagi orang lain di masa depan, mengabdi pada dunia melalui ilmu yang diwariskan secara turun temurun. Tidak ada harta yang paling indah selain mendakwahkan ilmu. Beruntung dan berbahagialah para pelajar di seluruh dunia yang cita-cita di masa depanmu menjadi seorang guru, karena kemuliaan selalu datang pada orang yang berilmu. Pengabdianmu tak akan pernah terbalaskan di dunia, tapi pengabdianmu itu adalah karunia sekaligus sebagai amal jariyah investasimu kelak di akhirat”