Sesungguhnya
Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu merubah
nasibnya sendiri.
(
Qs Ar-ra’d:11 )
Sistem
ekonomi yang kapitalis mengakibatkan kesenjangan social, salah satu akibat dari
kesenjangan social itu menjamurnya anak jalanan. Mereka sangat intens ditemui
di tempat-tempat umum, namun keberadaan mereka seakan dilihat sebelah mata oleh
orang- orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
Berbanding
terbalik dengan keadaan anak jalanan yang hidup seadanya banyak orang yang
berorasi “cerdaskan anak bangsa !! gratiskan biaya sekolah !!” seakan orang-orang
tesebut hanya memperhatikan anak-anak yang beruntung saja yaitu mereka yang
dapat bersekolah. Padahal disamping anak-anak yang beruntung itu, ada yang
harus diperjuangkan pendidikannya demi kelangsungan bangsa ini, mereka adalah anak
jalanan atau sering disingkat anjal.Tidak sedikit anak jalanan yang memiliki
potensi dan multitalent yang dapat dieksplor kemampuannya. Namun, adakah
perhatian dari pemerintah atau orang-orang sekitar terhadap anak-anak jalanan
tersebut ?.
Teringat
sebuah lirik lagu yang mengisahkan tentang anak jalanan,
|
Anak jalanan kumbang metropolitan
Selama ramai dalam kesepian
Anak jalanan korban kemunafikan
Selalu kesepian di keramaian
|
Tiada tempat untuk mengadu
Tempat mencurahkan isi kalbu
Cinta kasih dari ayah dan ibu
Hanyalah peri yang palsu
|
Fakta membuktikan bahwa keberadaan
anak-anak jalanan itu menjadi ruang eksploitatif bagi preman. Bahkan, banyak
kasus perdagangan anak yang menimpa anak jalanan. Selain itu, keberadaan mereka
juga cenderung akrab dengan tindak kriminal, mereka juga rentan terkena virus
narkoba, free sex, dan penyakit moral
lainnya yang menghancurkan masa depan anak bangsa. Tentunya, kita mesti prihatin
akan kondisi generasi penerus bangsa tersebut, di tengah sistem kehidupan yang
semakin global ini, apa jadinya bila sebagian besar anak-anak Indonesia tidak
sekolah dan terus-terusan hidup di jalan.( OPINI | 08 June 2011)
Seorang anak, termasuk anak-anak jalanan ini merupakan
penerus cita-cita bangsa. Anak-anak ini juga gambaran masa depan suatu bangsa
dan calon pemegang tongkat estafet kepemimpinan negeri ini nantinya.
Kesejahteraan anak-anak ini perlu diperhatikan, tertuang dalam pasal 34: 1, UUD
1945 disebutkan: “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.”
Oleh karena itu, ada tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh pemerintah
dalam memperhatikan anak jalanan.
Terdapat sebuah kisah nyata perjalanan hidup seorang anak
jalanan yang bernama Siswandi, yang kini sukses menjadi presiden direktur dari
sebuah lembaga pendidikan bimbingan belajar yang menitikberatkan pada sisi
sosial bagi kalangan menengah ke bawah.
Berbagai macam rasa telah ia rasakan, pahit, getir, luka, perih, miris, terhina, tanpa harapan, semua fase kehidupan yang tidak enak sudah ia lewati. Saat ini semuanya berbuah kesuksesan. Segala kata yang menyakitkan, mungkin tak cukup untuk melukiskan penderitaan Siswandi. Jangankan sekolah, untuk makan dan bertahan hidup pun harus berjuang dalam keperihan.
Berbagai macam rasa telah ia rasakan, pahit, getir, luka, perih, miris, terhina, tanpa harapan, semua fase kehidupan yang tidak enak sudah ia lewati. Saat ini semuanya berbuah kesuksesan. Segala kata yang menyakitkan, mungkin tak cukup untuk melukiskan penderitaan Siswandi. Jangankan sekolah, untuk makan dan bertahan hidup pun harus berjuang dalam keperihan.
Selain itu, ada juga kisah nyata tentang tiga
orang siswa anak jalanan yang menuntut ilmu di sekolah Masyarakat Terminal
(Master) Kota Depok, Jawa Barat, meraih prestasi internasional dengan
mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri. Ketiga siswa tersebut adalah
Muhammad Koidi yang melanjutkan sekolah tingkat SMA di Afrika Selatan, Muzaifa
berhasil melanjutkan kuliah di Al-Azhar Mesir, dan Zulkarnaen yang berhasil
meneruskan studinya untuk kuliah di Arab Saudi. "Siapa pun
jika diberi kesempatan akan mampu meraih prestasi yang membanggakan," kata
pengasuh sekolah anak jalanan di Terminal Depok, Nur Rohim, di Depok.
Anak jalanan juga berpotensi jadi entrepreneur sukses,
mereka (anak jalanan) yang berusaha
sedemikian keras baik itu mengamen, menyemir sepatu, menjadi loper koran , dan
lain sebagainya sesungguhnya itu merupakan training mereka secara tidak
langsung dalam berbisnis, karena tanpa disadari oleh kita, mental bisnis mereka
tergembeleng secara alami, dari aktivitas mereka sehari-hari. Terkadang kita
menggangap merka melakukan hal yang kecil, namun hal tersebut sepertinya
sejalan dengan rumus AA Gym 3 M, yaitu Mulailah dari diri sendiri, Mulai dari
hal yang kecil, dan Mulailah dari sekarang. Setidaknya mereka sudah memulai,
dan mental mereka yang istiqomah dalam menjalankan aktivitasnya.
Beberapa pernyataan di atas sudah tidak bisa diragukan lagi
bahwa anak jalanan mempunyai potensi dalam membangun bangsa ini. Maka tidak ada
salahnya apabila pemerintah bergegas mengemas potensi-potensi itu untuk
dikembangkan dalam sebuah pendidikan yang lebih baik lagi untuk para anak-anak
jalanan.
Sudah saatnya pemerintah melipatgandakan upaya untuk
menanggulangi persoalan anak jalanan di negeri ini. Anak jalanan di sudut-sudut
lampu merah hanyalah satu potret buram di antara ribuan bahkan jutaan kisah
orang-orang miskin di negeri ini. Sementara yang perlu diingat: “Keteraturan
dalam sebuah bangsa bukan dilihat dari jumlah milyuner yang dimiliki, tetapi
dari ketiadaan bencana kelaparan di masyarakatnya,” demikian Mahatma Ghandhi.
Namun, pemimpin rakyat sibuk memperkaya diri seolah-olah
tanggung jawab memenuhi janji-janji kampanye mereka dianggap selesai saat
mereka mendapatkan kursi kekuasaan yang mereka inginkan. Nasib anak-anak
jalanan di negeri ini berbanding lurus dengan nasib orang-orang miskin,
ditelantarkan dan tidak pernah mendapatkan perhatian yang memadai dari
pemerintah.
Memang, menyelesaikan masalah anak jalanan bukanlah
pekerjaan yang mudah. Tapi, minimalnya untuk menyelesaikannya dibutuhkan
iktikad baik dan keseriusan pemerintah. Anak-anak adalah potret masa depan
Indonesia. Maka, tidak ada kata lain selain menyelamatkan mereka dari jurang
keterbelakangan.
Begitu pun para dermawan-dermawan yang suka dan rela
mengulurkan bantuannya untuk mendirikan sekolah bagi para anak jalanan. Seperti
Nur Rohim yang telah berahasil mendidik anak-anak jalanan, bahkan mengantarkan
mereka pada gerbang kesuksesan yang dapat membawa anak-anak asuhnya mencapai
cita-cita dan dapat bersekolah di luar negeri. Terdapat pepatah yang mengatakan
bahwa tangan diatas lebih baik
daripada tangan dibawah.
Jadi, perhatian
pemerintah terhadap anak jalanan masih kurang padahal sudah jelas tercantum legalitasnya
bahwa anak jalanan dipelihara Negara. Berterimakasihlah kepada para dermawan
yang telah mngulurkan bantuannya untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak
jalanan, walaupun masih jarang ditemui orang seperti Nur Rohim yang telah
berhasil mengantarkan anak-anak asuhnya bersekolah di luar negeri. Namun,
yakinlah bahwa masih banyak di luar sana anak-anak jalanan yang sukses dan
menjadi kebanggaan bangsa dengan setiap usaha yang dilakukannya atas izin Allah
SWT mereka (anak jalanan) dapat memperbaiki kehidupannya.
"Jangan sampai putus asa ataupun
minder dengan keterbatasan yang ada. Teruslah belajar agar tercapai
cita-cita," ─ Nur Rohim
