Selasa, 25 Februari 2014

Anak Jalanan, Cita-Cita Bangsa



Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu merubah nasibnya sendiri.
( Qs Ar-ra’d:11 )

Sistem ekonomi yang kapitalis mengakibatkan kesenjangan social, salah satu akibat dari kesenjangan social itu menjamurnya anak jalanan. Mereka sangat intens ditemui di tempat-tempat umum, namun keberadaan mereka seakan dilihat sebelah mata oleh orang- orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
Berbanding terbalik dengan keadaan anak jalanan yang hidup seadanya banyak orang yang berorasi “cerdaskan anak bangsa !! gratiskan biaya sekolah !!” seakan orang-orang tesebut hanya memperhatikan anak-anak yang beruntung saja yaitu mereka yang dapat bersekolah. Padahal disamping anak-anak yang beruntung itu, ada yang harus diperjuangkan pendidikannya demi kelangsungan bangsa ini, mereka adalah anak jalanan atau sering disingkat anjal.Tidak sedikit anak jalanan yang memiliki potensi dan multitalent yang dapat dieksplor kemampuannya. Namun, adakah perhatian dari pemerintah atau orang-orang sekitar terhadap anak-anak jalanan tersebut ?.
Teringat sebuah lirik lagu yang mengisahkan tentang anak jalanan,

Anak jalanan kumbang metropolitan
Selama ramai dalam kesepian
Anak jalanan korban kemunafikan
Selalu kesepian di keramaian
Tiada tempat untuk mengadu
Tempat mencurahkan isi kalbu
Cinta kasih dari ayah dan ibu
Hanyalah peri yang palsu


Fakta membuktikan bahwa keberadaan anak-anak jalanan itu menjadi ruang eksploitatif bagi preman. Bahkan, banyak kasus perdagangan anak yang menimpa anak jalanan. Selain itu, keberadaan mereka juga cenderung akrab dengan tindak kriminal, mereka juga rentan terkena virus narkoba, free sex, dan penyakit moral lainnya yang menghancurkan masa depan anak bangsa. Tentunya, kita mesti prihatin akan kondisi generasi penerus bangsa tersebut, di tengah sistem kehidupan yang semakin global ini, apa jadinya bila sebagian besar anak-anak Indonesia tidak sekolah dan terus-terusan hidup di jalan.( OPINI | 08 June 2011)
Seorang anak, termasuk anak-anak jalanan ini merupakan penerus cita-cita bangsa. Anak-anak ini juga gambaran masa depan suatu bangsa dan calon pemegang tongkat estafet kepemimpinan negeri ini nantinya. Kesejahteraan anak-anak ini perlu diperhatikan, tertuang dalam pasal 34: 1, UUD 1945 disebutkan: “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Oleh karena itu, ada tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh pemerintah dalam memperhatikan anak jalanan.
Terdapat sebuah kisah nyata perjalanan hidup seorang anak jalanan yang bernama Siswandi, yang kini sukses menjadi presiden direktur dari sebuah lembaga pendidikan bimbingan belajar yang menitikberatkan pada sisi sosial bagi kalangan menengah ke bawah.
Berbagai macam rasa telah ia rasakan, pahit, getir, luka, perih, miris, terhina, tanpa harapan, semua fase kehidupan yang tidak enak sudah ia lewati. Saat ini semuanya berbuah kesuksesan. Segala kata yang menyakitkan, mungkin tak cukup untuk melukiskan penderitaan Siswandi. Jangankan sekolah, untuk makan dan bertahan hidup pun harus berjuang dalam keperihan.
Selain itu, ada juga kisah nyata tentang tiga orang siswa anak jalanan yang menuntut ilmu di sekolah Masyarakat Terminal (Master) Kota Depok, Jawa Barat, meraih prestasi internasional dengan mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri. Ketiga siswa tersebut adalah Muhammad Koidi yang melanjutkan sekolah tingkat SMA di Afrika Selatan, Muzaifa berhasil melanjutkan kuliah di Al-Azhar Mesir, dan Zulkarnaen yang berhasil meneruskan studinya untuk kuliah di Arab Saudi. "Siapa pun jika diberi kesempatan akan mampu meraih prestasi yang membanggakan," kata pengasuh sekolah anak jalanan di Terminal Depok, Nur Rohim, di Depok.
Anak jalanan juga berpotensi jadi entrepreneur sukses, mereka (anak jalanan) yang berusaha sedemikian keras baik itu mengamen, menyemir sepatu, menjadi loper koran , dan lain sebagainya sesungguhnya itu merupakan training mereka secara tidak langsung dalam berbisnis, karena tanpa disadari oleh kita, mental bisnis mereka tergembeleng secara alami, dari aktivitas mereka sehari-hari. Terkadang kita menggangap merka melakukan hal yang kecil, namun hal tersebut sepertinya sejalan dengan rumus AA Gym 3 M, yaitu Mulailah dari diri sendiri, Mulai dari hal yang kecil, dan Mulailah dari sekarang. Setidaknya mereka sudah memulai, dan mental mereka yang istiqomah dalam menjalankan aktivitasnya.
Beberapa pernyataan di atas sudah tidak bisa diragukan lagi bahwa anak jalanan mempunyai potensi dalam membangun bangsa ini. Maka tidak ada salahnya apabila pemerintah bergegas mengemas potensi-potensi itu untuk dikembangkan dalam sebuah pendidikan yang lebih baik lagi untuk para anak-anak jalanan.
Sudah saatnya pemerintah melipatgandakan upaya untuk menanggulangi persoalan anak jalanan di negeri ini. Anak jalanan di sudut-sudut lampu merah hanyalah satu potret buram di antara ribuan bahkan jutaan kisah orang-orang miskin di negeri ini. Sementara yang perlu diingat: “Keteraturan dalam sebuah bangsa bukan dilihat dari jumlah milyuner yang dimiliki, tetapi dari ketiadaan bencana kelaparan di masyarakatnya,” demikian Mahatma Ghandhi.
Namun, pemimpin rakyat sibuk memperkaya diri seolah-olah tanggung jawab memenuhi janji-janji kampanye mereka dianggap selesai saat mereka mendapatkan kursi kekuasaan yang mereka inginkan. Nasib anak-anak jalanan di negeri ini berbanding lurus dengan nasib orang-orang miskin, ditelantarkan dan tidak pernah mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah.
Memang, menyelesaikan masalah anak jalanan bukanlah pekerjaan yang mudah. Tapi, minimalnya untuk menyelesaikannya dibutuhkan iktikad baik dan keseriusan pemerintah. Anak-anak adalah potret masa depan Indonesia. Maka, tidak ada kata lain selain menyelamatkan mereka dari jurang keterbelakangan.
Begitu pun para dermawan-dermawan yang suka dan rela mengulurkan bantuannya untuk mendirikan sekolah bagi para anak jalanan. Seperti Nur Rohim yang telah berahasil mendidik anak-anak jalanan, bahkan mengantarkan mereka pada gerbang kesuksesan yang dapat membawa anak-anak asuhnya mencapai cita-cita dan dapat bersekolah di luar negeri. Terdapat pepatah yang mengatakan bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah.
Jadi, perhatian pemerintah terhadap anak jalanan masih kurang padahal sudah jelas tercantum legalitasnya bahwa anak jalanan dipelihara Negara. Berterimakasihlah kepada para dermawan yang telah mngulurkan bantuannya untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak jalanan, walaupun masih jarang ditemui orang seperti Nur Rohim yang telah berhasil mengantarkan anak-anak asuhnya bersekolah di luar negeri. Namun, yakinlah bahwa masih banyak di luar sana anak-anak jalanan yang sukses dan menjadi kebanggaan bangsa dengan setiap usaha yang dilakukannya atas izin Allah SWT mereka (anak jalanan) dapat memperbaiki kehidupannya.

"Jangan sampai putus asa ataupun minder dengan keterbatasan yang ada. Teruslah belajar agar tercapai cita-cita," ─ Nur Rohim

Selasa, 07 Januari 2014

Rindu Aku yang Dulu


     Segores asa yang telah lama aku pendam, hampa memang dengan aku yang sekarang, bukan aku yang dulu yang pandai menjaga hati, aku yang sekarang begitu rentan terkena penyakit hati (Astaghfirullah). Jauhkah aku dengan Tuhan?? 
     Aku rindu aku yang dulu, yang pandai menjaga hati, 'Cukuplah Allah bagiku', kucurahkan seluruh cintaku hanya untuk Sang Maha Cinta, bukan aku yang sekarang, yang cenderung lebih mencintai ciptaan-Nya, sampai aku lupa akan cinta-Nya yang hakiki. 
   Aku rindu aku yang dulu, yang pandai menjaga pandangan, sehingga aku senantiasa bisa terhindar dari virus-virus yang datangnya dari setan. Bukan aku yang sekarang, yang sulit menjaga pandangan, sehingga aku mudah sekali terjerat nafsu durjana, yang kontras sekali perbuatanku itu menjauhkan aku dari  Tuhanku.
    Aku rindu aku yang dulu, yang pandai menjaga sikap dan kehormatan, sehingga aku senantiasa menjunjung tinggi rasa malu ku ketika berinteraksi dengan lawan jenisku, bukan aku yang sekarang, aku yang tak tahu malu. Berlagak sebebas mungkin di depan lawan jenisku, tertawa keras padahal aku tahu bahwa suaraku auratku, mengeluarkan celetukan yang katanya lucu, yang jelas-jelas menjatuhkan harga diriku sebagai muslimah.
    Astaghfirullahal'adziim.. padahal Allah telah memerintahkan untuk hamba-hambanya yang beriman, untuk menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Asaku yang muncul, beriring dengan syukurku kepada Allah, karena aku bisa tersadar dari keadaanku yang ternyata selama ini aku FUTUR. Ya Allah, jauhkan hamba dari sikap yang bisa menjauhkanku dari jalan lurus-Mu. Dan kumpulkanlah hamba selalu bersama orang-orang yang beriman kepada-Mu, yang senantiasa mengingatkan hamba ketika apa yang dilakukan berbelok jauh dari arah kiblat-Mu. Dan jauhkanlah hamba dari lingkungan yang malah akan membuat kecintaanku berkurang kepada-Mu. Aamiin..
    Rindu aku yang dulu, bukan aku yang sekarang. Tapi mungkin aku akan seperti aku yang dulu, di masa yang akan datang.

"Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu lengan, dan barang siapa mendekat kepada-Ku satu lengan maka Aku akan mendekat kepadanya dua lengan, dan jika ia menghadap kepada-Ku dengan berjalan maka Aku akan menemuinya dengan berlari". {Hadits Riwayat Bukhari-Muslim}


sumber : http://sanikkuhamasahkku.blogspot.com

Sabtu, 04 Januari 2014

Puisi Terakhir

Terkadang ku takut memejamkan mata ini
Sering ku bermimpi tentang hari esok
Perasaan takut yang semakin kuat
Dan rasa tak ingin pergi dari dunia ini

Walaupun ku tau dunia ini fana
Seorang anak manusia hanya titipan-Nya
Tetapi ku tak ingin cepat pergi
Tuhan, tolong hamba-Mu ini

Ku ingin hari esok masih ada
Bercanda tawa bersama mereka

Walaupun semua itu hanya mimpi
Mungkin puisi ini suara hatiku yg terakhir

(nina : 15-10-2010 : 20.00)

Selasa, 31 Desember 2013

it's me for next year

“Tahun Baru”
Sebuah kalimat yang sangat gencar dibicarakan oleh orang-orang pada saat mendekati malam pergantian tahun. Namun apakah makna dari pergantian tahun itu ?

Kebanyakan orang-orang merayakan malam pergantian tahun dengan berpesta dan berfoya-foya. Pergi hingga tengah malam dan menyalakan bunyi-bunyian sebagai tanda pergantian tahun. Mereka seakan dibutakan oleh malam itu, dihilangkan akal sehatnya dan bersenang-senang semalaman.

Aku pun pernah melewati itu. Tidak munafik. Itu pun salah satu pengalamanku. Akan tetapi seiring bergantinya tahun, umurku pun bertambah dan kedewasaan juga tingkat pola pikir aku pun mulai berkembang lebih realistis lagi. Mungkin dimulai dari malam ini. Ya malam ini tepat malam tahun baru, yaitu pergantian dari tahun 2013 ke tahun 2014.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, aku merayakannya di luar, bersenang-senang, ketawa-ketiwi menikmati indahnya kembang api yang terlukis di awan dengan warna-warni dan berkilauan. Malam ini aku lebih senang tinggal di kamar bersama dengan laptop dan music instrumental yang dapat menyejukkan hati.

Bukan karena aku menutup diri atau aku tidak dapat ikut serta dengan kegembiraan orang-orang di luar sana. Aku hanya mencoba merenungi perjalanan hidupku selama tahun 2013 yang lalu, yang astagfirullah aku penuh dengan dosa dan aku belum bisa jadi manusia yang baik yang di ridhoi Allah.

Aku harus menata hidupku untuk setahun kedepan agar lebih baik lagi. Dan malam ini aku ajukan permintaan-permintaanku Ya Allah, semoga Engkau meridhoi dan mengabulkannya satu per satu.. aamiiin
• Menjadi muslimah yang shalihah (tidak meninggalkan shalat lima waktu, selalu mebaca ayat al-qur’an, melaksanakan shlat sunnah)
• Mendapatkan nilai UAS yang tebaik dan IPK yang terbaik (3,5)
• Memulai semester 4 dengan menjadwal waktunya belajar dan berorganisasi. Mendapat IPK yang terbaik (3,5)
• Mengambil mata kuliah semester 6.
• Mendapat besiswa Djarum
• Mendapatkan nilai uts dan uas yang terbaik.
• Menjalankan ibadah puasa dengan khusu
• Menjadi manusia yang kembali fitri (suci)
• Memulai semester 5 dengan menjadwal waktunya belajar dan berorganisasi. Mendapat IPK 3,5.
• Mengambil mata kuliah semester 7.
• Mendapatkan nilai uts dan uas yang tebaik.
• Tidak ada mata kuliah yang ngulang atau sp.

Bagi Allah tidak ada yang berat untuk mengabulkan permintaan hamba-hamba-Nya. Mungkin orang akan tertawa dengan permintaan-permintaanku itu karena kemampuanku sebagai manusia biasa-biasa saja. Tapi aku percaya kemampuan Allah dapat menghentikan dengan seketika tertawa mereka karena insyaAllah semuanya akan terkabul atas izin dan ridho-Nya … aamiin

Menurutku makna dari malam pergantian tahun adalah bagaimana kita merenungi kehidupan kita selama setahun kebelakang, dan menatanya kembali agar setahun kedepan dapat menjadi lebih baik lagi dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Semoga kita semua dapat memaknai pergantian tahun baru ini dengan hal yang positif.

“Tahun Baru, bukan ajang untuk berpesta ria. Tahun baru, dimana kita dapat menjadi manusia yang lebih baik lagi” – Nina Juliana

My True Story



Setiap  hari dalam kehidupan manusia adalah episode-episode yang harus dilalui. Dalam setiap episodenya tidak semua dapat berjalan sesuai keinginan, terkadang rencana manusia dapat tergoyahkan dengan sebuah keinginan yang sebenarnya tidak lebih baik dari rencana kita sebelumnya.
Sore ini (16.15 .16/12/2013) saya tidak sengaja membuka twitter, dan tidak sengaja pula saya menemukan sebuah akun twitter yang setiap sharetwittnya sangat menginspirasi. Dari setiap cerita –ceritanya membuat saya sadar bahwa saya telah lupa salah satu tujuan saya datang ke Kota Bandung ini. Saya sadar Allah telah menegur saya, dan Dia ingin saya kembali dengan tujuan awal saya. Terimakasih #JalanHijrahku @pewski , telah membuka kembali akal sehatku untuk meluruskan jalanku, ini adalah petunjuk dari Allah. Mungkin ini yang dinamakan bahwa Allah mempunyai berbagai cara untuk hambanya kembali ingat pada-Nya.
Tidak cukup hanya twitter Teh Pepew saja yang saya follow ,tapi saya pun mencari website dan akun facebook Teh Pepew .Dan alhamdulillah  atas izin Allah saya menemukan website dan akun facebook Teh Pepew. Jemari saya tidak terhenti hanya dengan mencari saja, saya mulai membuka satu peri satu artikel yang Teh Pepew tulis, dan subhanallah di dalamnya begitu banyak ilmu yang dapat dipetik dari pengalaman-pengalaman Teh Pepew.
Sebaris kalimat yang Teh Pepew tulis di status twitternya, alhamdulillah memberikan berbaris-baris kalimat yang memberikan pelajaran hidup. Terdapat  sebuah pepatah yang mengatakan,
“Belajaralah dari pengalaman !”
Sekarang saya sangat menegerti dengan pepatah itu. Teringat ada salah satu guru saya mengatakan “Pengalaman hidup itu bukan hanya yang kita alami sendiri, akan tetapi pengalaman orang lain yang dapat kita ambil hikmahnya”. Dari pertama saya mendengar kalimat itu saya selalu berusaha memaknai setiap langkah hidup saya dan belajar mengintropeksi diri. Bukan hanya pengalaman yang saya alami sendiri, saya juga selalu mencoba meresapi setiap pengalaman orang-orang yang bercerita kepada saya. Tapi yang saya rasakan sama saja, tidak ada perubahan dalam hidup saya. Sampai akhirnya saya menemukan tulisan-tulisan yang mengisahkan kehidupan manusia yang langsung dirasakan oleh manusia itu sendiri. Tulisan-tulisan kehidupan itu adalah tulisan-tulisan Teh Pepew yang terdapat di blognya. Entah kenapa tulisan-tulisannya adalah pengalaman hidup saya dan belum sempat saya ketahui setiap makna dari hidup saya yang telah saya lewati.
Teh Febrianti Almeera atau dari cerita-ceritanya lebih sering disapa Teh Pepew. Tapi saya lebih senang menyapanya dengan sebutan Teh Almeera. J
Seorang inspirator muda dan muslimah. Sejak sore itu disaat saya menemukan akun twitter, website, dan akun facebook  Teh Almeera, seperti sebuah magnet yang terus menarik-narik saya untuk membuka laptop. Langsung saja mata saya menuju icon mozila dan mengajak jari-jari saya untuk mengetik sebuah alamat blog yaitu “febriantialmeera.com” .Yaps, sepertinya saya sudah kecanduan tulisan-tulisan Teh Almeera yang sangat menginspirasi …Hehe

***
Berawal dari sharetwitt Teh Almeera yang menuntun saya untuk membuka websitenya yaitu sebuah artikel tentang “Tongkat Musa”. Pada sharetwittnya saat itu sedang membahas,
“Lakukanlah bagianmu, dan Allah akan melakukan bagian-Nya”
Disaat saya membaca sharetwitt tersebut saya sedang galau .Aciee galau …Hehe. Tapi bukan galau karena cowo yaa. Hmm saya pada saat itu sedang galau dengan nilai IPK saya yang kurang memuaskan dan jauh dari target, walaupun sebenarnya masih ada nilai mata kuliah yang belum keluar. Saya bertanya-tanya dan pada saat itu bermunculan alasan-alasan yang membuat IPK saya turun, dan saya pun mencoba mentata kembali pola hidup saya.
Alasan-alasan itu muncul dan membuat saya berpikir kembali apa benar gara-gara itu ?? Entahlah, selama ini saya merasa baik-baik saja ,dan saya bisa menajalani aktivitas shari-hari saya tanpa beban. Walaupun saya sering sekali mengeluh. Jangan dicontoh yaa ! Hehe
Namun dari pendapat orang-orang  disekitar saya, termasuk orang tua saya sendiri mengatakan hal yang sama dengan salah satu alasan saya mengapa ipk saya turun. Alasan itu adalah karena organisasi. Saya berfikir lagi, apa benar karena organisasi ?
Sampai pada akhirnya saya membaca kembali tulisan The Almeera di bognya yang berjudul “Pit Stop (Titik Balik)”. Lagi-lagi saya merasa masuk ke dalam cerita The Almeera. Saya mencoba untuk melakukan Pit Stop, yaitu dengan berhenti sejenak dari kegiatan saya di organisasi untuk meluruskan kembali niat saya berada di Kota Bandung ini.
Alhamdulillah, saya merasa tenang dalam belajar dan saya mearasa ada semangat lagi untuk belajar. Dari sini saya mulai mengetahui apa yang sebenarnya membuat saya tidak semangat belajar sebelum-sebelumnya. Bukan karena organisasi, tapi karena saya terlalu lelah dan memaksakan untuk menjalani kegiatan sehari-hari saya tanpa ada waktu saya untuk istirahat atau untuk teman-teman saya di kelas.
Saya pun menyadari bahwa kemarin-kemarin saya sangat jauh dari Allah, mungkin karena terlalu banyak kegiatan. Padahal tidak seharusnya semua aktivitas saya mengganggu ibadah saya kepada Sang Maha Kuasa.
Kini saya ingin menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasanya. Tanpa lupa untuk beribadah, karena itu yang harus diutamakan. Saya pun mulai menekuni kembali hobi saya dalam menulis, saya juga kembali memperbanyak kosa kata saya untuk menulis dengan membanca beberapa blog yang dapat memberikan inspirasi. Dan saya sangat bereterimakasih kepada The Almeera yang telah membuka jalan pikiran dan wawasan saya. Semoga saya dapat menjadi seperti The Almeera ..

“Kehidupan ini kita sendiri yang manage, maka jangan sia-siakan setiap detik waktu yang yang berputar” – Nina Juliana